Kamis, 13 November 2008
Tentang Global Warming
Global Warming yang terjadi bukan lagi hanya krisis tentang naiknya suhu secara global yang mengakibatkan mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan. Mencairnya es di kutub akan mengulang kembali sejarah bumi. Dimana ketika pada jaman es, es di kutub mencair maka permukaan air laut akan naik. Hal ini mengakibatkan beberapa daerah menjadi pulau. Seperti pulau Kalimantan yang terpisah dari benua Asia dan Pulau Papua yang terpisah dari benua Australia. Perubahan cuaca yang terjadi juga akibat dari pemanasan global. Musim kemarau yang lebih panjang akan mengancam kehidupan di bumi.
Krisis air bersih akan terjadi di banyak daerah. Terutama di negara-negara dunia ketiga. Dimana negara-negara dunia ketiga masing tergantung dengan sumber air bersih dari alam. Mereka belum mampu mengolah air laut atau air yang sudah tercemar menjadi air bersih yang layak konsumsi karena keterbatasan teknologi, pengetahuan dan keterbatasan dana. Karena penebangan hutan yang tak terkendali, maka daya serap tanah terhadap air untuk cadangan sumber air bersih juga akan berkurang. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya cadangan air tanah yang menjadi sumber air bersih. Belum lagi ditambah dengan meningkatnya suhu secara global yang akan meningkatkan penguapan air yang sudah tersimpan di dalam tanah.
Dengan terjadinya krisi air bersih, efek donimo yang terjadi akan sangat panjang. Krisis pangan karena ketidak tersediaan air untuk irigasi tanaman pangan yang berakibat pada kelaparan dalam skala besar. Dengan adanya krisis air bersih dan krisis pangan maka peperangan juga mungkin akan terjadi.
Dengan melihat kenyataan dan efek domino yang mungkin terjadi, maka sudah saatnya untuk kita semua menjaga kelestarian alam, melindungi pohon dan hutan. Perlindungan hutan bukan lagi menjadi tanggung jawab aparat terkait semata, tetapi juga kita semua sebagai umat manusia yang masih membutuhkan bumi untuk berpijak, untuk tempat tinggal anak-cucu kita sebagai penerus generasi yang akan datang atau membiarkan kerusakan terus berlanjut dan umat manusia bernasib seperti dinosaurus yang punah dari muka bumi.
LET'S DO A SMALL THING TO SAVE OUR PLANET!!!
Selasa, 04 November 2008
Friendster, Pesona Baru Dunia Online
Nyaris tanpa promosi, tapi hanya dalam tempo setahun mampu membangun komunitas online yang sukses dan menarik sembilan juta anggota. Mimpi? Tidak. Friendster.com telah membuktikan, tanpa gegap gempita iklan, hanya mengandalkan jaringan anggotanya, mampu menjadi fenomena Internet tahun ini sehingga jadi incaran para pemodal kelas kakap. Hebatnya, meski masih dalam versi beta, Friendster telah meraup dana US$ 13 juta atau sekitar Rp 130 miliar dari modal ventura dan pemain Internet kelas berat seperti mantan CEO Yahoo! Tim Koogle, mantan CEO Paypal Peter Thiel, serta mantan VP Amzon.com Ram Shriram. Mengapa Friendster baru diperkenalkan tahun lalu dapat menjadi begitu fenomenal? Jawabannya sederhana: karena menawarkan arsitektur baru berkomunikasi yang tak mungkin dilakukan di dunia nyata. Ketika kita bertemu seorang teman, misalnya, kita hanya melihat sosok dia semata. Kita nyaris tak pernah membayangkan, bahkan tidak tahu, siapa saja teman sang teman kita. Mustahil pula kita memetakan siapa teman dari teman sang teman kita itu. Friendster mampu membuka tabir keterkaitan yang amat rumit di dunia nyata menjadi sederhana namun menarik di dunia maya. Pengguna Friendster memahami betul betapa hal yang nyaris mustahil itu bisa terwujud di sana. Ketika pertama kali mendaftar menjadi anggota Friendster, Anda dipersilahkan membuat halaman web personal, dengan mengisi data-data pribadi dengan foto-foto diri. Selain nama, informasi yang dapat diisi adalah asal sekolah, tempat kerja, buku dan film favorit. Dengan mengisi info yang benar, Anda akan dengan mudah menemukan teman yang punya hobi sama, pernah kerja di tempat yang sama, atau dari sekolah yang sama. Saya misalnya, memasukkan Karl May sebagai pengarang idola, dengan amat mudah menemukan pecinta pengarang buku Winnetou itu. Betapa kagetnya saya ketika mendapatkan teman lama yang tak saya sangka sedikitpun sebagai pembaca setia serial petualangan Winnetou dan Old Shutterhand. Mudah ditebak, saya jadi punya teman diskusi petualangan dua sahabat itu di Amerika dan Balkan. Tujuan Anda ikut Friendster juga wajib diisi, apakah mencari teman kencan, sekadar menolong orang lain, atau sekadar berteman (activity partner). Status juga perlu dinyatakan (sudah punya pasangan atau dalam pencarian pasangan). Informasi lain yang dapat diisi dalam data personal adalah "siapakah sesungguhnya Anda (menurut deskripsi Anda sendiri)" serta "ingin bertemu orang seperti apa". Dengan membaca dua kolom ini saja Anda langsung harus paham apakah Anda bisa menjadi teman seseorang atau tidak. Jika anda lelaki dan menemukan anggota Friendster perempuan dengan informasi "Cowo dilarang masuk, tak usah add sebagai teman, pasti tidak ditanggapi", dan di daftar temannya hanya berisi sesama kaum Hawa, Anda harus mahfum. Mengundang orang lain dalam jaringan teman adalah fasilitas paling unik Friendster. Begitu orang yang Anda undang sebagai teman setuju, foto dan nama mereka akan tampil dalam halaman personal Anda. Hebatnya, Anda juga langsung terhubung pada teman-teman dari teman Anda tersebut. Begitu juga sebaliknya, teman baru Anda langsung terhubung ke teman-teman Anda. Danah Boyd, pengamat Friendster yang kini diakui sebagai guru "social network" oleh para programmer dan pemodal ventura dunia, mendeskripsikan Friendster secara tepat: "Friendster adalah sebuah wahana yang secara tegas menyatakan siapa saja teman anda, bagaimana profil mereka, dan mempersilahkan mereka untuk saling melihat melalui jalur Anda." Bayangkan saja, Anda yang memiliki hanya 18 teman di Friendster, bisa terhubung ke jaringan teman dari 18 teman Anda, dan tanpa sadar Anda terhubung ke lebih dari 15 ribu orang dalam sebuah jaringan teman dalam sekejap. Itu pun masih dilengkapi dengan berbagai fitur menarik lainnya untuk berkomunikasi. Ada pesan personal yang hanya bisa dikirim oleh teman dalam jaringan. Ada bulletin board yang berisi pesan-pesan yang dapat dibaca oleh semua teman dalam jaringan. Ada pula fasilitas testimonial, di mana teman-teman Anda dapat mengisi kesan-kesan mengenai Anda. Friendster benar-benar merupakan perpaduan luar biasa antara email, bulletin board, personal web serta "jaringan sosial". Pesona baru dunia maya inilah yang menyihir sebagian besar pengguna awal Friendster terhenyak di depan komputer, menghabiskan banyak waktu di dunia maya tersebut. Mereka keasyikan menelusuri jaringan teman, menemukan kejutan-kejutan baru dari teman-teman baru, mengundang teman-teman baru, memeriksa testimonial yang dikirim teman-teman lama, mengecek pesan baru, dan seterusnya. Tak mengherankan jika Friendster yang semula dirancang untuk ajang kencan online, kini berkembang jauh lebih luas dan hebat. Dalam sekejap anggotanya melesat menjadi 9 juta. Bukan hanya anak-anak muda yang tertarik menjadi anggotanya. Kalau kita search anggota yang usianya di atas 40, tidak sedikit nama yang muncul. Dengan fitur-fitur yang mudah digunakan pemakai internet pemula, Friendster memang tidak menghalangi siapapun antara usia 10 sampai 60 tahun untuk bergabung. Ada seorang anggota yang mengatakan, "Friendster itu ibarat candu, sekali pakai ketagihan!" Komentar ini ditulis oleh pria berusia 34 tahun, dan sudah punya satu anak. Ia mengaku membuka Friendster setiap hari untuk melihat adakah kawan lama (dan baru) yang menemukannya, dan apakah kawan-kawan yang ia ajak bergabung sudah menanggapi emailnya dan masuk dalam lingkarannya temannya. Satu lagi anggota Friendster bercerita kalau ia tercengang-cengang mengetahui kawannya yang tampak alim, pendiam dan sering berkhotbah, ternyata penggemar Linkin' Park. "Ini hanya bisa saya ketahui lewat Friendster," komentarnya sambil tertawa. Tentu masih banyak kelemahan Friendster. Salah satunya adalah munculnya Fakester, istilah bagi mereka yang membuat profil palsu di Friendster dan membuat jaringan teman palsu. Kelemahan lain, siapa saja dapat membuat account di Friendster, sehingga ada account atas nama lembaga, termasuk Universitas Gadjah Mada dan Mailing List para pecinta marketing paling aktif di Indonesia, Marketing Club. Mana ada Universitas atau Mailing List punya teman? Tapi kelemahan itu tidak mengurangi daya tarik Friendster. Bagi anggota, Friendster adalah wahana menarik. Bagi sang penemu, inilah wahana bisnis yang sungguh menggiurkan. Potensi pendapatannya sangat besar. Iklan online di Friendster saat ini memang belum banyak karena masih versi beta. Namun banyak calon pemasang iklan yang lebih tertarik memasang iklan di sebuah komunitas yang profil anggotanya jelas seperti Friendster. Apalagi jika iklannya dapat dipersonalisasi, dikirim ke target audience yang cocok dengan iklannya. Pendapatan kedua adalah dari keanggotaan. Saat ini memang masih gratis. Namun sudah ada kasak kusuk untuk mengutip biaya untuk layanan khusus Friendster versi finalnya dengan biaya US$ 9,95 atau Rp 99,5 ribu per bulan. Asumsikan 10% saja dari anggota yang sekarang rela merogoh koceknya, maka pendapatan tahunan Friendster sekitar US$ 107,46 juta. Menggiurkan memang. Tak heran jika nama-nama lain muncul menawarkan jasa sejenis Friendster, seperti Orkut dan Multiply. Orkut yang dibuat oleh salah satu orang Google bentuknya hampir mirip Friendster, sedangkan Multiply menyediakan mini website bagi tiap anggota yang lebih banyak fiturnya dibanding sekedar halaman anggota. Anggota Multiply mendapat halaman dengan alamat URL individu yang bisa diakses langsung tanpa harus masuk dari halaman kita seperti yang Anda perlu lakukan di Friendster. Kini lahir pula Spoke dan LinkedIn, yang lebih berorientasi pada komunitas bisnis. Sama seperti Friendster, kedua wahana baru ini berhasil merayu investor. Spoke mendapat suntikan modal US$ 20 juta sedangkan LinkedIn US$ 4,7 juta. Dunia Dotcom yang sempat tenggelam, kini bangkit lagi berkat Friendster.
Mendorong VoIP Menjadi Layanan Massal
Mendorong VoIP Menjadi Layanan Massal
VoIP (Voice over Internet Protocol) adalah proses transmisi komunikasi suara, seperti pembicaraan lewat telefon biasa, melalui jaringan berbasis IP (internet protocol) seperti internet. Kedua metode tersebut mengubah suara menjadi sinyal elektrik (data), dan mengirimkannya melalui suatu jaringan kepada penerima, di mana di sisi penerima akan diubah lagi data tersebut menjadi suara. Namun, terdapat perbedaan yang utama antara komunikasi berbasis IP dan jaringan telefon biasa (PSTN), yakni metode pengiriman datanya.
PSTN (Public Switched Telephone Network) atau yang biasa kita kenal sebagai jaringan telefon rumah, membentuk jaringan antara pemanggil dan yang dipanggil yang terus tersambung selama pembicaraan berlangsung. Sementara panggilan IP menggunakan internet adalah suatu jaringan yang berbasiskan paket data. Artinya, data ditransfer dalam paket-paket yang dikirimkan dari sumber ke tujuan, dan setelah sampai di tujuan paket-paket data tersebut akan digabungkan kembali menjadi suatu informasi.
Akibatnya, proses pengiriman menjadi lebih efisien dan menjadi tidak masalah dengan jarak antara pengirim dan penerima, sebagaimana sering dipermasalahkan dengan jaringan PSTN. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa panggilan VoIP menjadi jauh lebih murah dibandingkan panggilan PSTN. Selain itu, karena internet merupakan jaringan global, di mana sistem telekomunikasi diimplementasikan baik secara individu, dalam pemerintahan, maupun secara korporasi, menjadikan komunikasi dapat dilakukan secara global dengan lebih mudah.
VoIP di Indonesia
Layanan VoIP sangat efisien untuk komunikasi jarak jauh, baik untuk panggilan interlokal maupun panggilan internasional, karena kedua jenis panggilan tersebut membutuhkan biaya yang mahal jika dilakukan dengan PSTN. Seperti sudah diketahui, jauh dekatnya jarak dalam panggilan interlokal dan internasional melalui PSTN sangat menentukan besar kecilnya biaya percakapan yang harus dibayarkan oleh konsumen. Namun, untuk panggilan lokal, penggunaan VoIP akan lebih mahal. Oleh karena itu, layanan VoIP ini berkaitan erat dengan layanan telekomunikasi internasional.
Layanan telefon internasional dapat dilakukan dengan menggunakan Internet Telefon i untuk Keperluan Publik (ITKP) atau yang lebih dikenal dengan VoIP dan dengan jasa telefon i dasar Sambungan Langsung Internasional (SLI) yang masing-masing memiliki lisensi sendiri-sendiri. Saat ini PT Telkom juga diberikan izin menyelenggarakan layanan telekomunikasi internasional dengan kode akses 017 yang merupakan layanan Internet Telefon i untuk Kepentingan Publik (ITKP) dan 007 yang merupakan Sambungan Langsung Internasional (SLI).
Saat ini ada tujuh penyelenggara ITKP, yaitu PT Telkom dengan kode akses 017, PT Indosat dengan kode akses 016, PT Gaharu dengan kode akses 019, PT Atlasat dengan kode akses 018, PT.Satelindo, PT Excelcomindo, dan PT Satria Widya Prima. Berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 1999, para penyelenggara jaringan wajib interkoneksi untuk menghubungkan percakapan dari ujung ke ujung, termasuk untuk percakapan antar negara (internasional).
Pada umumnya para penyelenggara layanan ITKP memasang sebuah gateway di masing-masing operator, seperti Telkom, Indosat, Excelcom, dll. agar para pelanggan operator-operator tersebut dapat memanfaatkan layanan ITKP mereka. Namun demikian, para penyelenggara ITKP ini sering menerima perilaku yang tidak bertanggung jawab dari para operator, yang mungkin dilakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab, terhadap peralatan mereka. Salah satu tindakan yang bisa mengganggu layanan ITKP adalah blocking.
Tindakan blocking oleh penyedia jaringan sangat mudah dilakukan karena penggunaan sistem komputerisasi di perangkat sentral, dan salah satu metode blocking adalah mengalihkan akses (reroute). Semua penyelenggara ITKP membutuhkan koneksi dengan peralatan yang bernama E-1 sebagai media untuk koneksi. Peralatan E-1 hanya disediakan oleh penyelenggara jaringan komunikasi, sehingga dengan tidak diberikannya E-1 yang menjadi otoritas penyelenggara jaringan kepada para penyelenggara ITKP, secara otomatis penyelenggara ITKP tidak akan dapat menjalankan sistem mereka. Itu artinya ITKP tidak dapat memberikan layanannya kepada para penggunanya.
Pada umumnya tindakan blocking dilakukan oleh suatu operator--yang juga memiliki layanan ITKP--terhadap layanan penyelenggara ITKP lain yang terhubung dengan jaringan mereka untuk mematikan layanan ITKP kompetitornya tersebut. Tindakan blocking sering dilakukan oleh para pelaku bisnis telekomunikasi dalam persaingan untuk mematikan kompetitornya. Padahal, tindakan tersebut jelas-jelas merupakan bentuk pelanggaran terhadap Undang-Undang No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Masih tingginya perilaku unfairness dari para operator jaringan, menyebabkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh para penyelenggara ITKP. Selain itu, para pelanggan mereka sering menerima kualitas layanan yang buruk sebagai akibat seringnya terjadi gangguan sambungan E-1 ke gateway mereka. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa VoIP tidak terlalu berkembang di Indonesia, karena iklim kompetisi sehat yang tidak terjadi. Seharusnya setiap pelanggan telefon memiliki kebebasan untuk memilih layanan VoIP mana yang mereka gunakan. Artinya, pada waktu pelanggan operator A akan menggunakan layanan VoIP, dia tidak harus menggunakan layanan VoIP milik operator A tersebut, namun dia bebas memilih layanan VoIP lain yang ingin dia gunakan.***
Indra Gunawan
Pengamat Telekomunikasi Tinggal di Jakarta
